Kamis, September 25, 2008

Slank & SO7 Cuek dengan Desakan Malaysia

Surabaya - Meski Malaysia berencana agar lagu Indonesia dikurangi pemutarannya di Negeri Jiran itu, tidak membuat band papan atas Indonesia ketakutan. Seperti yang diutarakan oleh Slank dan Sheila on 7.

Saat ditemui wartawan sebelum konser Syair ‘Cinta Ilahi di Taman Surya’, Jalan Walikota Mustajab, Surabaya, Jawa Timur, Jumat (12/8/2008). Mereka mengaku tidak terpengaruh dengan rencana pemerintahan PM Abdullah Ahmad Badawi itu..

“Musik itu universal jadi tidak terpatok pada satu sisi saja. Kalau pun Malaysia mengeluarkan imbauan itu, tidak pada Indonesia saja melainkan secara internasional. Bagi kami ini tidak masalah,” kata vokalis Sheila on 7, Duta.

Bagi grup band asal Jogjakarta itu pelarangan tersebut juga tidak berdampak pada popularitas maupun penjualan lagu-lagu mereka.

Sikap lebih garang ditunjukkan oleh Slank. Grup yang sudah puluhan tahun malang melintang di dunia musik Indonesia ini mengaku imbauan itu justru menunjukkan kelemahan Malaysia yang dinilai tidak bisa mengembangkan musik dalam negerinya.

Slank juga tidak khawatir imbauan ini akan menurunkan pangsa musiknya di negara tersebut. “Kita jauh sebelum saat ini sudah masuk ke Malaysia melalui black market. Kami tidak khawatirkan hal itu,” ucap Bimbim santai. (detikhot.com)

PAGELARAN MUSIK SPESIAL RAMADHAN BERSAMA SLANK DAN SHEILA ON 7


5-09-2008 17:00:15
Menyemarakkan bulan suci ramadhan, Pemerintah Kota Surabaya bekerjasama dengan Trans7 dan IM3 menyelenggarakan pagelaran musik yang bertema "Syair Cinta Ilahi", Jum at (12/9) di Balai Kota. Konser tersebut merupakan paduan antara syiar yang disampaikan Ustad Jujun Junaidi dan syair yang dilantunkan Slank dan Sheila On 7.

Tema acara kali ini mempunyai makna bahwa cinta adalan suatu anugrah yang diberikan oleh Allah SWT. Cinta sejati adalah cinta kepada Allah SWT yang dapat diapresiasi dalam berbagai bentuk, cara, salah satunya dengan syair serta syiar di Musik Spesial Ramadan ini. Surabaya merupakan kota kedua yang disinggahi untuk acara musik Ramadhan setelah Depok (5/9).

Sebelumnya konser musik yang dimulai pukul 21.00 hingga 23.00 ini diawali dengan Sholat Tarawih berjamaah yang diikuti oleh karyawan dan karyawati di Instansi Pemkot Surabaya. Dalam sambutannya, Wakil Walikota Surabaya Arif Afandi berharap agar masyarakat Surabaya tidak hanya menikmati musik yang disajikan, namun juga menambah pengetahuan untuk menjauhi narkoba, terus meningkatkan prestasi di segala bidang serta turut menjaga ketentraman Kota Surabaya seperti menonton konser musik dengan aman dan damai.

Dalam kesempatan tersebut hadir pula Kapolwil Kota Surabaya, Anang Iskandar dan Bunda Iffet. Tak lupa Bunda Iffet berpesan agar masyarakat Surabaya menjauhi narkoba karena menurutnya tanpa narkoba siapapun tetap bisa eksis dan berkreasi. Acara yang disiarkan langsung oleh Trans7 ini mendapat sambutan ribuan warga kota Pahlawan Surabaya, terutama dari kalangan remaja.

Senin, September 15, 2008

Slank dan ``Mafia Senayan``


Judul : Slank dan "Mafia Senayan"
Penulis : Raka Revolta
Penerbit : Bio Pustaka
Tahun : 2008
Genre : Sosial Politik
Tebal : 116 Halaman
ISBN : 978-602-8097-08-6


Kritik Terhadap Wakil Rakyat

Slank adalah salah satu band di tanah air yang konsisten dan punya kepedulian dengan kondisi sosial dan politik –terlihat dari lirik lagu-lagu Slank yang syarat dengan kritik sosial, terutama korupsi. Perilaku korupsi sepertinya menjadi sesuatu yang lumrah di Indonesia, seakan menjadi bagian budaya dari masyarakat. Hal itulah yang menjadi dasar keprihatinan Slank dan kemudian mengangkat kritik sosial tersebut melalui lirik lagu. Tak heran mereka kemudian dijadikan "Duta Anti Korupsi" oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Ditambah, perjalanan panjang selama 24 tahun mengarungi musik telah membuktikan eksistensi Slank sebagai band papan atas dengan kualitas ”legenda”.

Buku berjudul Slank dan "Mafia Senayan" yang ditulis oleh Raka Revolta ini mencatat episode-episode penting dalam perjalanan hidup dan karier bermusik Slank yang bersinggungan langsung dengan kreativitas musik, sosial, dan politik. Lirik dan tema lagu yang Slank tawarkan akrab dengan lingkungan sehari-hari, ada protes dan kritik.

Slank dan Korupsi menjadi bagian cerita menarik dalam buku ini. Sejak kedatangan Slank ke kantor KPK, 24 Maret 2008 untuk menyatakan dukungannya terhadap KPK yang sedang gencar-gencarnya memberantas korupsi. Dari sanalah kontroversi itu bermula. Awalnya mereka hanya mengadakan pertunjukan sederhana bertajuk "Bangkit dan Lawan Korupsi" di kantor KPK. Namun, gara-gara lagu yang berjudul Gosip Jalanan yang telah dirilis pada 2004 itu, Slank harus berurusan dengan DPR-RI. Ternyata lirik lagu tersebut membuat panas telinga orang-orang di Senayan.

Melalui Badan Kehormatan DPR-RI, para wakil rakyat itu merasa disudutkan sebagai anggota dewan lewat lirik lagu tadi. Kenapa baru dipermasalahkan sekarang? Padahal mengkritik pemerintah dengan gaya slenge’an telah menjadi ciri khas band ini sejak dulu. Lagu Gosip Jalanan adalah hal yang normal dalam proses berdemokrasi. Kata ”mafia Senayan” dalam lagu tersebut bukan mengartikan DPR-RI adalah mafia. Namun ironisnya hanya dalam hitungan jam setelah DPR-RI bersikap keras terhadap Slank atas kritik dalam syair lagunya, KPK menangkap Al Amin Nur Nasution anggota DPR-RI yang dituduh menerima uang suap dari pejabat Pemkab Bintan dengan kasus izin pengalihan fungsi Hutan Lindung Bintan Binyu menjadi Ibu Kota Kabupaten Bintan. Penangkapan itu seolah membenarkan apa yang didendangkan Slank tentang adanya mafia dikalangan politisi Senayan. Tidak hanya itu penangkapan anggota DPR yang terkait kasus korupsi pun terus bergulir di antaranya Bulyan Royan, Hamka Yandhu, dan Sarjan Tahir. DPR-RI pun seakan bungkam dan sepertinya mereka tidak belajar dari kesalahan sebelumnya.

Seni bagi kalangan seniman juga bisa sebagai alat perjuangan terutama dalam menyuarakan kritik sosial. Slank bukanlah band, musisi atau penyanyi pertama yang bersikap kritis. Sebelumnya sudah banyak seniman yang kritis dan melantunkan kritik-kritik sosial lewat syair lagunya. Seperti Iwan Fals, Leo Kristi, Franky Sahilatua, Wiji Thukul, dan Harry Roesli. Mereka malah dengan keras mengejek tabiat perilaku politisi kita, dan bukan hanya seniman dengan lagu kritik sosialnya. Bahkan kalangan sastrawan dan budayawan pun juga ikut menyuarakan kegelisahan dan ketimpangan yang ada di masyarakat, seperti WS Rendra dan Pramoedya Ananta Toer. Sungguh naif jika kerangka berpikir politisi kita sekarang kembali ke masa Orde Baru. Tidak bisa menerima protes dan kritikan.

Kritik sosial dari seniman seperti Slank harusnya menjadi bahan bagi para politisi kita untuk menginstrospeksi diri, agar amanah yang diberikan rakyatnya benar-benar diwujudkan bukan malah diselewengkan. Haruskah Slank dengan karyanya bernasib sama seperti yang dialami Iwan Fals, WS Rendra dan Pramoedya Ananta Toer? Buku Slank dan "Mafia Senayan" mampu menjadi sebuah kisah yang menarik.

Jumat, September 12, 2008

Kans 68















Komisi Pemberantasan Korupsi


KPK Blog
http://blogkpk.slankfansclub.com
http://www.slankfansclub.com/kpk

Slank Siap Go International


16/08/2008
Dari Gang Potlot Menuju Mancanegara

INILAH.COM, Jakarta - Siapa tak kenal grup band Slank, legenda hidup musik di Tanah Air? Grup musik ini tengah bersiap go international. Persiapannya berjalan tiga tahun. Bermula sejak 2006, ketika mereka meluncurkan album di AS.

Setelah melakukan riset, akhirnya Slank bersepakat dengan Blues Saraceno (mantan grup Poison) untuk memproduksi album berbahasa Inggris Slank. Bertindak sebagai distributor di AS adalah Megaforce (New York).

Pada Juli–Agustus 2007, Slank sudah memulai rekaman dan melanjutkan proses mixing dan mastering di Studio City Sound di California.


Pada 2008, Slank memulai usaha mencari dukungan dana dan fasilitas untuk promo tour di 10 kota di AS. Ke-10 kota itu terdiri dari Los Angeles, San Fransisco, New York, Boston, Santa Cruz, Petaluma, Crystal Bay, Chico, Dallas, dan Seattle.


Slank merogoh kantong sendiri untuk kepentingan peluncuran album Anthem for the Broken Hearted ini. Sebagian besar uang telah mereka habiskan untuk ongkos produksi. Sedangkan sisanya tidak cukup membiayai promo tour sepanjang Oktober 2008 itu.


Menurut Denny dan Masto dari manajemen Slank, proses patungan tabungan anggota Slank harus melalui negosiasi dengan masing-masing keluarga anggota Slank. Pihak keluarga personel Slank mendukung niat itu dan bersedia berbagi tabungan untuk proyek besar ini.


"Kita bukan sekadar merilis album di Amerika. Kita mau membawa cerita Indonesia yang positif ke sana. Berita-berita mengenai Indonesia yang disiarkan di luar negeri selalu negatif. Padahal kita juga memerangi korupsi serta ingin berusaha hidup harmonis, berusaha menghijaukan kembali hutan kita. Slank selalu menyuarakan itu," jelas Bimbim, pentolan sekaligus pendiri Slank.


Karena itu, begitu Bimbim, Slank bakal membawa film yang diputar waktu pertunjukan Slank. "Biar penonton juga melihat Indonesia yang berbeda dengan berita media massa di sana," lanjut Bimbim.


Akhir Juni lalu, Slank berkunjung ke kantor Peter F Gontha, pemangku adat acara tahunan Java Jazz Festival. Sejak pertama pembicaraan, Gontha langsung memberi dukungan sepenuhnya atas rencana Slank. Ibunda Iffet, pihak manajemen Slank, dan anggota Slank agak terkejut dengan dukungan spontan Gontha.


Menurut Gontha, inisiatif kelompok orang muda, seperti Slank, yang mau berprakarsa membantu pemerintah membangun citra positif dengan menceritakan sisi yang baik dari orang Indonesia, harus didukung.


Dalam rangka mendapatkan dukungan itu pula, pada Senin (11/8) lalu, seluruh anggota Slank, lengkap dengan bunda Iffet, Masto dan Denny, didampingi Peter F Gontha, menghadap Menteri Budaya dan Pariwisata Jero Wacik.


Dalam sambutannya, Jero Wacik menggarisbawahi tentang Bhinneka Tunggal Ika. Bukan hanya perkara seni budaya tradisional, tapi juga Slank sebagai grup rock yang dapat menjadi duta diplomasi Indonesia di dunia internasional.


Menteri Wacik memberi dukungan atas rencana Slank melakukan promo tour di AS. Ia juga akan menghubungi berbagai pihak untuk mendukung rencana Slank ini.


Slank go international memang sudah saatnya. Grup musik ini tumbuh menjadi grup yang solid dengan jumlah pengemar fanatik yang tidak sedikit.


Grup ini berdiri pada Desember 1983 dengan nama Cikini Stones Complex (CSC). Personelnya adalah anak-anak SMA Perguruan Cikini, Jakarta.

Slank formasi pertama, dibangun dari pecahan Cikini Stones Complex (yang lain membentuk Cikini Metal Stones), didukung oleh Bimbim (drum), Willy (vokalis), Donny (bas), Bongky (gitar), dan Adri (kibor).

Lalu susunan personel berubah. Pay masuk menggantikan Bongky, sementara Bongky menggeser Donny, dan Indra menempati posisi Adri. Mereka bermarkas di Gang Potlot, Jakarta Selatan, dan pertama kali masuk studio rekaman pada 1990.

Semula Slank bernaung di bawah panji manajemen Proyek Q, yang dikomandani Boedi Soesatio. Ketika rekaman album ketiga Slank 3 (1993) manajemen ganti ditangani Pulau Biru Management, sementara Boedi cukup bertindak sebagai produser.

Mulai album keempat (Generasi Biru, 1994), Pulau Biru Management berganti nama menjadi Pulau Biru Productions; Slank bertindak sebagai produser.

Namun rupanya manajemen kewalahan menangani anak-anak Slank, yang kini terdiri atas Bimbim, Kaka (vokal), Abdee Negara dan Ridho Hafiedz (gitar), serta Ivanka (bas).

Bunda Iffet Sidharta, ibu Bimbim, lalu mengambil alih manajemen, mulai album keenam (Lagi Sedih, 1997). Hasilnya? Bunda mengakui banyak yang curiga mengenai posisinya sebagai manajer. Muncul tuduhan nepotisme. Tapi justru di tangannya ada hasil yang jelas.

"Sekarang baru kelihatan jadi duit," tuturnya.

Anthem for the Broken Hearted



Slank ~ Drug Me Up









Drug Me www.stafaband.info