Sabtu, September 06, 2008

Romantika Kehidupan Ayah

Kaka “Slank” (33 tahun)

Penyanyi, ayah dari Solielluna (11 tahun) & Chaska Satriaji (3 tahun)

“Saya Memikirkan Pergaulan Anak-Anak Kelak”

Dulu saya akrab dengan drugs meski saat itu saya sudah punya Oye (nama kecil anak sulungnya dari perkawinan terdahulu, Red . ). Saat Oye tumbuh dan memerlukan bimbingan serta kedekatan dengan ayahnya, saya justru tidak bisa memberikan. Ya... saat itu waktu saya habis untuk berteman dengan barang-barang haram itu. Jelas saja saya tak bisa ada di dekatnya. Jadinya, saya kehilangan masa-masa indah yang seharusnya saya lalui bersama Oye, putri saya.

Sampai sekarang, masih saja saya punya perasaan bersalah pada Oye. Tapi istri saya, Tasha (29 tahun), selalu bilang tak seharusnya saya tenggelam dalam perasaan itu. Menurut Tasha, yang penting sekarang bagaimana saya mengisi hidup ini dengan lebih memperhatikan anak-anak saya.

Benar juga Tasha. Menyesal boleh saja, tapi tak boleh larut dalam penyesalan itu. Life goes on . Sekarang, saya berusaha meluangkan waktu lebih banyak bersama Oye dan juga Chaska , anak kedua saya.

Pada Oye, saya menebus kesalahan masa lalu dengan meluangkan waktu bersamanya setiap akhir pekan. Saya jemput Oye dari rumah ibunya di Bogor untuk bermain dan berjalan-jalan bersama saya, Tasha, dan Chaska. Oye senang sekali, apalagi kini ia punya adik.

Saat Chaska lahir, saya dampingi Tasha di ruang bersalin. Ini merupakan pengalaman pertama saya melihat seorang manusia kecil keluar dari ibunya. Saat melihat proses ini, dalam hati saya berkata, “Pantas saja surga berada di bawah telapak kaki ibu. Perjuangan melahirkan melibatkan nyawa ibu sebagai taruhannya!” Pertama kali melihat Chaska, saya berharap mudah-mudahan anak ini tidak kurang ajar pada ibunya, dan dijadikan anak yang saleh dan sayang pada ibunya.

Di usia Chaska kini, yang saya cemaskan dan membuat saya galau adalah kesehatannya. Namun bila memandang jauh ke depan, hampir setiap hari saya memikirkan bagaimana pergaulannya kelak. Terlebih lagi lingkungan pergaulan anak muda sekarang ‘kan macam-macam. Tapi saya tak mau jadi ayah yang over protective, yang melarang anak-anaknya bergaul.

Saya ingin jadi teman anak-anak saya, bisa diajak sharing , senantiasa menjawab pertanyaan anak khususnya mengenai pergaulan dan wawasan anak sekaligus teman bercanda, dan teman bicara yang tak ada batas, tak ada rasa sungkan.

Saya memang harus banyak belajar menjadi orang tua yang baik. Saya banyak belajar dari Bunda dan Pakde (orang tua dari Bimbim “Slank” ), karena sedari kecil saya tinggal bersama mereka. Dari merekalah saya belajar jadi orang tua yang hangat dan dekat dengan anak-anaknya.

Hidup saya sekarang lebih sehat dan lebih fokus. Saya tak ingin mengulangi kesalahan saya. Saya berdoa bisa berumur panjang supaya dapat menemani kedua anak saya tumbuh. Bagi saya kehadiran anak-anak merupakan karunia-Nya yang harus saya jaga dengan baik, saya bimbing dan saya jalin kedekatan serta senantiasa mendukung apa pun cita-cita mereka.

Amin, DPR, Slank, KPK

10 April 2008 | 15:32 WIB

Nama Al Amin Nur Nasution, lembaga DPR, grup musik Slank, dan lembaga pemberantasan korupsi KPK menjadi buah bibir dalam masyarakat kita saat ini. Hal itu terkait dengan tertangkapnya Amin, anggota DPR dari F-PPP oleh petugas KPK kemarin. Amin diduga menerima suap dari Sekda Pulau Bintan untuk pengalihan fungsi hutan lindung dan dijanjikan uang Rp3 miliar.

Saat ditangkap KPK uang yang disita hanya berkisar Rp70-an juta saja, namun barang bukti itu diduga hanya sebagian dari hadiah atau gratifikasi berupa uang, wanita muda dll.

DPR pun sedang apes, terpuruk, mengapa dengan DPR? Mereka lewat Badan Kehormatan DPR yang diketuai Gayus Lumbuun baru saja berseteru dengan grup musik Slank karena merasa terhina dan tercemar dengan lirik lagu ’’Gosip Jalanan’’ yang dinyanyikan vokalis Kaka di kantor KPK beberapa hari sebelum tertangkapnya Amin.

Slank dianggap mempermalukan DPR yang diidentikkan dengan Mafia Senayan. DPR sebagai lembaga pembuatan undang-undang/peraturan namun ujung-ujungnya duit. BK DPR berniat menggugat Slank. Namun pihak Slank kelihatannya tenang-tenang saja karena merasa lagu itu mereka ciptakan hanya sebagai hiburan dan kritik membangun sesuai fakta di masyarakat.

DPR secara ’’de facto’’ sudah lama disinyalir sebagai lembaga paling banyak kasus korupsinya, hanya sebagai alat/stempel pemerintah, dan kemarin citra lembaga terhormat itu kembali tercoreng sekaligus membuktikan kalau lagu Slank benar adanya.

Hal itu terkait dengan penangkapan oleh petugas KPK terhadap anggota DPR Amin Nasution bersama sejumlah orang di sebuah hotel di Jakarta. Sudah pastilah penangkapan itu terkait kasus korupsi, walaupun pembuktiannya bakal mengalami jalan panjang sebagaimana kasus-kasus yang menimpa anggota atau mantan anggota DPR lainnya.

Lain halnya dengan KPK. Lembaga pemberantasan korupsi itu belakangan ini semakin menunjukkan jati dirinya sebagai pendekar dalam medan pemberantasan korupsi, terutama yang nilainya miliaran rupiah. Banyak kasus korupsi yang tidak mampu diungkap oleh pihak kejaksaan di daerah berhasil diungkap KPK, seperti kasus korupsi mantan Gubernur Aceh Abdullah Puteh. Kasus Walikota dan Wakil Walikota Medan juga diselesaikan KPK di Jakarta.

Justru itu, kita melihat citra DPR sedang terpuruk dan KPK sedang bagus-bagusnya saat ini sehingga ke depan bisa semakin cemerlang dalam upaya pemberantasan penyakit korupsi yang sepertinya sudah berurat berakar dalam pemerintahan kita di pusat maupun daerah-daerah. Kalau ada usulan agar KPK mengembangkan sayapnya dengan membuka cabang atau KPK daerah di seluruh provinsi hal itu akan sangat bagus sehingga upaya menangkapi para koruptor bisa semakin banyak sekaligus menakutkan bagi para pejabat pemerintahan. Kalau hanya mengandalkan KPK Pusat saja, maka jumlah koruptor yang bisa diendus, ditangkap, dan dihukum jumlahnya sangat kecil.

Betapa sudah parahnya korupsi di negeri hukum kita saat ini dapat dilihat dari statement Konsul Amerika di Medan Sean Stein. Dia pernah mengatakan musuh bangsa Indonesia di masa lalu adalah PKI (Partai Komunis Indonesia), tetapi musuh kita saat ini mengganyang ’PKI’ yaitu Partai Koruptor Indonesia atau Partai Kroni Indonesia.

Oleh karena itu, kasus Amin diharapkan dapat menjadi pelajaran dan membuat takut para koruptor di Indonesia. Bahwa KPK dapat menyadap telepon pejabat kapan dan di mana saja, KPK punya alat canggih, sehingga tinggal waktunya saja untuk ditangkap dan mendekam di dalam bui. Mari kita support KPK, mari kita perangi KKN.=

SLANKERS MOJOKERTO MENGAJAK PILKADA DAMAI


Minggu, 21 Agustus 2005 15:03 WIB
Metrotvnews.com, Jakarta: Sekitar 50 orang yang mengatasnamakan Slankers Mojokerto long mars di jalan-jalan di Mojokerto, Jawa Timur, Ahad (21/8). Mereka menolak segala bentuk tindak kekerasan dalam pemilihan kepala daerah Mojokerto, 24 Agustus ini. Slankers Mojokerto, Jatim, berunjuk rasa menyerukan pilkada damai, Ahad (21/8)

Slankers adalah kumpulan anak muda yang mengidolakan grup musik Slank. Dalam orasinya, Hari Fibiyanto, koordinator lapangan aksi ini menyerukan kepada pemilih untuk menggunakan hati nurani dalam memilih kepala daerah. Jangan sampai terbuai janji dan materi sesaat. Semua pasangan calon kepala daerah juga diminta tak menggunakan politik uang dalam pilkada nanti.

Aksi ini dimulai di depan Tugu UKS. Mereka kemudian mengelilingi jalan protokol dan kembali ke tugu UKS. Selain membentangkan spanduk, pengunjuk rasa juga membagikan selebaran berisi seruan pilkada damai. Unjuk rasa ini berlangsung damai. Meski demikian, polisi tetap berjaga-jaga di beberapa sudut kota.

KONSER SLANK DI BOGOR RICUH


Minggu, 24 Agustus 2008 22:03 WIB
Metrotvnews.com, Bogor: Konser kelompok musik Slank di Lapangan Bondol, Kota Bogor, Jawa Barat, Ahad (24/8), diwarnai keributan antara penonton dan aparat keamanan. Sejumlah Slanker ditangkap, namun segera dibebaskan.

Konser semula berjalan tertib. Namun, tiba-tiba sejumlah penggemar Slank yang sering disebut Slanker memaksa masuk lapangan tanpa tiket. Penonton dari berbagai wilayah Jabodetabek ini mendobrak pagar seng yang mengelilingi area konser. Kericuhan di konser grup musik Slank di Bogor

Aparat keamanan yang berasal dari pasukan TNI Angkatan Udara Lapangan Udara Atang Senjaya, Bogor berupaya menghalau para Slanker. Namun, para Slanker tetap berupaya menerobos masuk ke arena konser. Padahal, panitia sudah membuka pintu masuk gratis untuk menghindari bentrokan antara penonton dan aparat keamanan.

Karena itulah sejumlah Slanker ditangkap aparat keamanan. Namun, mereka kemudian dibebaskan kembali.

Jumat, September 05, 2008

Kartu AS-SLANK


Kartu AS-SLANK
VP Marketing & CRM Telkomsel, Erik Meijer (kanan) bersalaman dengan vokalis Slank, Kaka (kedua kiri) disaksikan oleh personil lainnya, seusai peluncuran Kartu As edisi Slank di Bandung, Jawa Barat, Sabtu (25/2). Kartu tersebut menawarkan berbagai fasilitas khusus yang bersifat gratis, seperti, nonton konser Slank, nada sambung pribadi, keanggotaan SlankAs dan SMS seputar Slank.

Jumat, Agustus 22, 2008

Kamis, Agustus 21, 2008

Kalau Aku Jadi Presiden

Kalau Aku Jadi Presiden

Kalau aku jadi raja minyak
Akan kujatahkan oilku
Supaya mobil-mobil nggak bikin macet
Biar nggak ada perang rebutan minyak

Kala aku punya pabrik senjata
Gue rubah jadi pabrik-pabrik tahu
Supaya tentara nggak saling tembak
Dan dunia menjadi damai

Kalau aku punya surat HPH
Akan kurobek-robek dan aku bakar
Supaya nggak ada ijin untuk membabat
Dan hutankupun tetap lebat

Kalo aku jadi presiden
Tolong beritahu siapa yang curang
Supaya nggak ada lagi kebobolan
Dan rakyatkupun jadi tenang

Kalo aku jadi Presiden
Sekolah gak perlu pakai seragam
karena seragam cuma bikin tawuran
Anak sekolah boleh gondrong

Kalau gue jadi presiden
Pertama kali yang gue perangi adalah narkoba
Karena narkoba, banyak temen gue mampus

Kalau gue jadi presiden
gak perlu pakai safari
Just Kidding Man