Jumat, September 12, 2008

Slank Buka Warung di Layar TVRI


27-Aug-2008, 10:22:35 WIB - [www.kabarindonesia.com]

KabarIndonesia - Slank kembali buat ulah. Setelah ikutan memberantas korupsi bersama Komite Pemberantasan Korupsi (KPK) dan menjadi ikon 100 tahun Kebangkitan Nasional, band yang berasal dari Gang Potlot, Duren tiga Jakarta yang diawaki Bimbim & Kaka dan tampil dengan lirik sosial - kini buka warung di layar TVRI.

Slank dikontrak oleh Televisi milik Pemerintah untuk membuat sebuah program bertajuk warung Slankers yang tiap tayang Sabtu, pukul 20.00 malam.

Dengan latar belakang warung Slankers yang dikemas lewat acara variety Show. "Ini bukan sekedar warung, tempat nongkrongnya ABG sampai orang tua. Tapi warung slankers ini warungnya rakyat Indonesia yang bisa ngomong apa aja," kata Bimbim, penggebuk drum Slank Band.

Dengarlah lagu-lagunya Slank yang liriknya sering menyentil kehidupan sosial politik di negeri ini. "Dengar saja lagunya Bendera Setengah Tiang, Orkes Sakit Hati, Birokrasi Kompleks," ucap Kaka, sang vocalis yang juga merangkap sebagai gitaris Slank Band.

Rumah Mimpi, Rumah Rakyat

















Di rumahku, banyak tanaman Dari kamboja bali sampai rambutan aceh
Bimbim di pendopo rumah.

Apa definisi rumah rakyat? Sebuah tempat rakyat bisa berkumpul dan merasa nyaman dengan semua kesamaan maupun perbedaan. Tempat rakyat bebas dan leluasa menyampaikan suara nurani masing-masing, dengan keyakinan aspirasi itu pasti akan disampaikan oleh wakil pilihan mereka. Ah, terasa seperti mimpi, bukan?

Namun, di Jalan Potlot III/14, Jakarta Selatan, mimpi itu sengaja ditampung sebebas-bebasnya untuk kemudian diwujudkan bersama. Dua puluh lima tahun silam, Bimo Setiawan Almachzumi pun baru bisa bermimpi bahwa suatu saat band yang ia bentuk bisa masuk dapur rekaman, diterima masyarakat, dan menjadi nama besar di negeri ini.

Kini, seperti kita ketahui bersama, mimpi itu telah terwujud jauh melampaui apa yang pernah dibayangkan. Bimbim (demikian Bimo dipanggil) bersama empat temannya, Kaka, Ivanka, Ridho, dan Abdee Negara, telah menjadi bagian besar dari sejarah musik Indonesia. Konon, mereka punya sedikitnya 30 juta "pengikut", yang akan selalu mengibarkan bendera kupu-kupu Slank di mana pun mereka tampil di pentas. "Semuanya berawal di rumah ini," kata Bimbim di salah satu sudut rumah itu, Rabu (23/4).

Sejak mereka dikenal publik setelah sukses dengan album perdana tahun 1990 (waktu itu masih dengan formasi awal: Bimbim, Kaka, Bongky, Indra, dan Pay), nama Slank identik dengan markas mereka yang populer disebut Gang Potlot. Anak-anak muda yang bermimpi membentuk band sesukses mereka pun berdatangan dan sering berkumpul di situ.

"Setelah God Bless, waktu itu tak ada lagi band rock yang muncul di Indonesia. Di sini tempatnya anak band bermimpi. Anang datang dari Jember, Dhani (Ahmad Dhani, pendiri Dewa 19) dan Ari Lasso datang dari Surabaya. Thomas dan Ronald (dua personel awal GIGI) juga sering ngumpul di sini," kenang Bimbim.

Bersahaja

Dari luar, rumah Slank di Gang Potlot itu sama sekali tidak mencerminkan markas sebuah band yang telah menelurkan 17 album, yang masing-masing terjual antara 300.000-1.000.000 copy. Bahkan, kalau belum pernah datang ke tempat itu, besar kemungkinan orang akan terlewat karena bentuk rumah yang sangat sederhana.

Bagian depan rumah yang berbatasan langsung dengan jalan hanya didominasi dinding beton kasar berwarna kelabu kusam tanpa cat. Dinding itu penuh coretan spidol para Slankers yang pernah datang ke tempat itu.

Satu-satunya yang menandakan itu adalah rumah Slank adalah beberapa lukisan grafiti besar dan warna-warni di sebuah dinding di salah satu sudut halaman yang rindang. Itulah dinding studio Slank, tempat mereka berlatih, berdiskusi, menggubah lagu, merekam, dan merampungkan album-album mereka. "Ini dulunya sekolah TK, namanya TK Harapan Mulya. Tapi karena program KB berhasil, gak ada lagi anak-anak di sini, jadi TK-nya tutup, kami jadikan studio, he-he-he," tutur Bimbim tentang bangunan yang berada di seberang bangunan induk itu.

Sejak album keempat, Slank memproduksi sendiri albumnya di bawah bendera Pulau Biru Production. Sejak itu, seluruh aktivitas Slank dipusatkan di rumah Gang Potlot. Mulai dari kantor manajemen Slank, studio rekaman, laboratorium pascaproduksi, redaksi Koran Slank, produksi dan manajemen produk digital, manajemen website, pabrik merchandise, toko suvenir dan merchandise, hingga Warung Potlot, sebuah warung nasi sederhana untuk masyarakat umum dan para Slankers yang datang berkunjung. "Kaka pernah bilang, dulu hanya lima persen dari rumah ini buat Slank, tetapi sekarang sudah lebih dari 50 persen buat kegiatan Slank," ungkap Bimbim.

Keluarga

Meski lebih dari separuh rumah itu sudah menjadi kantor Slank, kehidupan pribadi para penghuninya tetap terjaga. Sampai sekarang, Bimbim masih selalu berkumpul dengan seluruh keluarga untuk sarapan bersama.

Bimbim dan kakak sulungnya, dengan keluarga masing-masing, masih tetap tinggal di Gang Potlot. "Saat sarapan itulah bokap ngajak diskusi dan ngajarin banyak hal. Mulai dari membahas isu terbaru yang dimuat koran sampai memberi buku-buku. Mulai buku tentang Bung Karno, ekonomi, politik, sejarah, sampai buku How To Write A Song," imbuh Bimbim.

Sidharta M Soemarno, ayah Bimbim, membangun rumah di pinggir kali kecil itu pada 1968. Sejak itu, pasangan Sidharta dan Iffet V Sidharta tinggal di rumah berhalaman luas (total luas tanahnya sekitar 2.000 meter persegi) itu bersama anak-anaknya. "Gue pindah ke sini sejak umur setahun. Sejak dulu, rumah ini menjadi tempat kumpul anak-anak kecil. Kaka sudah main di sini sejak kecil," ujar Bimbim tentang vokalis Slank yang masih sepupunya itu.

Iffet, yang lebih sering dipanggil Bunda Iffet, sudah dianggap ibu bagi Slank karena sejak awal selalu mendukung langkah Bimbim dan teman-temannya. Bahkan, sejak 1997, Bunda Iffet sendiri yang memimpin Pulau Biru Production. "Zaman dulu, Bunda selalu pesan, ’kamu boleh nakal, tapi daripada kleleran di tempat gak jelas, mending teman-temanmu yang diajak ke rumah’," kenang Bimbim.

Rakyat

Kini, rumah itu sudah tidak lagi sebatas rumah bagi keluarga Sidharta saja. Hampir setiap hari rumah itu didatangi para penggemar Slank yang disebut Slankers dari seluruh penjuru Tanah Air. Bahkan, pada tanggal-tanggal tertentu, seperti ulang tahun Slank, 26 Desember, atau ulang tahun setiap personelnya, rumah itu penuh sesak. "Jalan Pasar Minggu selalu macet pas tanggal-tanggal itu," ungkap Bimbim.

Antara rumah induk dan studio ada semacam lorong beratap beton yang berfungsi ganda. Bagian bawah digunakan sebagai garasi mobil, sementara atapnya dijadikan panggung tempat Slank menyanyikan suara rakyat tentang cinta, generasi muda, kritik sosial, sampai lingkungan hidup.

Di bawah atap itu pula mereka menerima Ketua KPK Antasari Azhar, 16 April lalu. Keterbukaan dan keberagaman orang-orang yang datang ke rumah itu mengilhami Bimbim menulis lagu Di Rumahku, yang ada dalam album Slankissme (2006).

Di rumahku, banyak orang-orang

Yang tidak pernah berkelahi, s’lalu damai...

Rumah Potlot adalah rumah rakyat yang sesungguhnya.

Sabtu, September 06, 2008

Romantika Kehidupan Ayah

Kaka “Slank” (33 tahun)

Penyanyi, ayah dari Solielluna (11 tahun) & Chaska Satriaji (3 tahun)

“Saya Memikirkan Pergaulan Anak-Anak Kelak”

Dulu saya akrab dengan drugs meski saat itu saya sudah punya Oye (nama kecil anak sulungnya dari perkawinan terdahulu, Red . ). Saat Oye tumbuh dan memerlukan bimbingan serta kedekatan dengan ayahnya, saya justru tidak bisa memberikan. Ya... saat itu waktu saya habis untuk berteman dengan barang-barang haram itu. Jelas saja saya tak bisa ada di dekatnya. Jadinya, saya kehilangan masa-masa indah yang seharusnya saya lalui bersama Oye, putri saya.

Sampai sekarang, masih saja saya punya perasaan bersalah pada Oye. Tapi istri saya, Tasha (29 tahun), selalu bilang tak seharusnya saya tenggelam dalam perasaan itu. Menurut Tasha, yang penting sekarang bagaimana saya mengisi hidup ini dengan lebih memperhatikan anak-anak saya.

Benar juga Tasha. Menyesal boleh saja, tapi tak boleh larut dalam penyesalan itu. Life goes on . Sekarang, saya berusaha meluangkan waktu lebih banyak bersama Oye dan juga Chaska , anak kedua saya.

Pada Oye, saya menebus kesalahan masa lalu dengan meluangkan waktu bersamanya setiap akhir pekan. Saya jemput Oye dari rumah ibunya di Bogor untuk bermain dan berjalan-jalan bersama saya, Tasha, dan Chaska. Oye senang sekali, apalagi kini ia punya adik.

Saat Chaska lahir, saya dampingi Tasha di ruang bersalin. Ini merupakan pengalaman pertama saya melihat seorang manusia kecil keluar dari ibunya. Saat melihat proses ini, dalam hati saya berkata, “Pantas saja surga berada di bawah telapak kaki ibu. Perjuangan melahirkan melibatkan nyawa ibu sebagai taruhannya!” Pertama kali melihat Chaska, saya berharap mudah-mudahan anak ini tidak kurang ajar pada ibunya, dan dijadikan anak yang saleh dan sayang pada ibunya.

Di usia Chaska kini, yang saya cemaskan dan membuat saya galau adalah kesehatannya. Namun bila memandang jauh ke depan, hampir setiap hari saya memikirkan bagaimana pergaulannya kelak. Terlebih lagi lingkungan pergaulan anak muda sekarang ‘kan macam-macam. Tapi saya tak mau jadi ayah yang over protective, yang melarang anak-anaknya bergaul.

Saya ingin jadi teman anak-anak saya, bisa diajak sharing , senantiasa menjawab pertanyaan anak khususnya mengenai pergaulan dan wawasan anak sekaligus teman bercanda, dan teman bicara yang tak ada batas, tak ada rasa sungkan.

Saya memang harus banyak belajar menjadi orang tua yang baik. Saya banyak belajar dari Bunda dan Pakde (orang tua dari Bimbim “Slank” ), karena sedari kecil saya tinggal bersama mereka. Dari merekalah saya belajar jadi orang tua yang hangat dan dekat dengan anak-anaknya.

Hidup saya sekarang lebih sehat dan lebih fokus. Saya tak ingin mengulangi kesalahan saya. Saya berdoa bisa berumur panjang supaya dapat menemani kedua anak saya tumbuh. Bagi saya kehadiran anak-anak merupakan karunia-Nya yang harus saya jaga dengan baik, saya bimbing dan saya jalin kedekatan serta senantiasa mendukung apa pun cita-cita mereka.

Amin, DPR, Slank, KPK

10 April 2008 | 15:32 WIB

Nama Al Amin Nur Nasution, lembaga DPR, grup musik Slank, dan lembaga pemberantasan korupsi KPK menjadi buah bibir dalam masyarakat kita saat ini. Hal itu terkait dengan tertangkapnya Amin, anggota DPR dari F-PPP oleh petugas KPK kemarin. Amin diduga menerima suap dari Sekda Pulau Bintan untuk pengalihan fungsi hutan lindung dan dijanjikan uang Rp3 miliar.

Saat ditangkap KPK uang yang disita hanya berkisar Rp70-an juta saja, namun barang bukti itu diduga hanya sebagian dari hadiah atau gratifikasi berupa uang, wanita muda dll.

DPR pun sedang apes, terpuruk, mengapa dengan DPR? Mereka lewat Badan Kehormatan DPR yang diketuai Gayus Lumbuun baru saja berseteru dengan grup musik Slank karena merasa terhina dan tercemar dengan lirik lagu ’’Gosip Jalanan’’ yang dinyanyikan vokalis Kaka di kantor KPK beberapa hari sebelum tertangkapnya Amin.

Slank dianggap mempermalukan DPR yang diidentikkan dengan Mafia Senayan. DPR sebagai lembaga pembuatan undang-undang/peraturan namun ujung-ujungnya duit. BK DPR berniat menggugat Slank. Namun pihak Slank kelihatannya tenang-tenang saja karena merasa lagu itu mereka ciptakan hanya sebagai hiburan dan kritik membangun sesuai fakta di masyarakat.

DPR secara ’’de facto’’ sudah lama disinyalir sebagai lembaga paling banyak kasus korupsinya, hanya sebagai alat/stempel pemerintah, dan kemarin citra lembaga terhormat itu kembali tercoreng sekaligus membuktikan kalau lagu Slank benar adanya.

Hal itu terkait dengan penangkapan oleh petugas KPK terhadap anggota DPR Amin Nasution bersama sejumlah orang di sebuah hotel di Jakarta. Sudah pastilah penangkapan itu terkait kasus korupsi, walaupun pembuktiannya bakal mengalami jalan panjang sebagaimana kasus-kasus yang menimpa anggota atau mantan anggota DPR lainnya.

Lain halnya dengan KPK. Lembaga pemberantasan korupsi itu belakangan ini semakin menunjukkan jati dirinya sebagai pendekar dalam medan pemberantasan korupsi, terutama yang nilainya miliaran rupiah. Banyak kasus korupsi yang tidak mampu diungkap oleh pihak kejaksaan di daerah berhasil diungkap KPK, seperti kasus korupsi mantan Gubernur Aceh Abdullah Puteh. Kasus Walikota dan Wakil Walikota Medan juga diselesaikan KPK di Jakarta.

Justru itu, kita melihat citra DPR sedang terpuruk dan KPK sedang bagus-bagusnya saat ini sehingga ke depan bisa semakin cemerlang dalam upaya pemberantasan penyakit korupsi yang sepertinya sudah berurat berakar dalam pemerintahan kita di pusat maupun daerah-daerah. Kalau ada usulan agar KPK mengembangkan sayapnya dengan membuka cabang atau KPK daerah di seluruh provinsi hal itu akan sangat bagus sehingga upaya menangkapi para koruptor bisa semakin banyak sekaligus menakutkan bagi para pejabat pemerintahan. Kalau hanya mengandalkan KPK Pusat saja, maka jumlah koruptor yang bisa diendus, ditangkap, dan dihukum jumlahnya sangat kecil.

Betapa sudah parahnya korupsi di negeri hukum kita saat ini dapat dilihat dari statement Konsul Amerika di Medan Sean Stein. Dia pernah mengatakan musuh bangsa Indonesia di masa lalu adalah PKI (Partai Komunis Indonesia), tetapi musuh kita saat ini mengganyang ’PKI’ yaitu Partai Koruptor Indonesia atau Partai Kroni Indonesia.

Oleh karena itu, kasus Amin diharapkan dapat menjadi pelajaran dan membuat takut para koruptor di Indonesia. Bahwa KPK dapat menyadap telepon pejabat kapan dan di mana saja, KPK punya alat canggih, sehingga tinggal waktunya saja untuk ditangkap dan mendekam di dalam bui. Mari kita support KPK, mari kita perangi KKN.=

SLANKERS MOJOKERTO MENGAJAK PILKADA DAMAI


Minggu, 21 Agustus 2005 15:03 WIB
Metrotvnews.com, Jakarta: Sekitar 50 orang yang mengatasnamakan Slankers Mojokerto long mars di jalan-jalan di Mojokerto, Jawa Timur, Ahad (21/8). Mereka menolak segala bentuk tindak kekerasan dalam pemilihan kepala daerah Mojokerto, 24 Agustus ini. Slankers Mojokerto, Jatim, berunjuk rasa menyerukan pilkada damai, Ahad (21/8)

Slankers adalah kumpulan anak muda yang mengidolakan grup musik Slank. Dalam orasinya, Hari Fibiyanto, koordinator lapangan aksi ini menyerukan kepada pemilih untuk menggunakan hati nurani dalam memilih kepala daerah. Jangan sampai terbuai janji dan materi sesaat. Semua pasangan calon kepala daerah juga diminta tak menggunakan politik uang dalam pilkada nanti.

Aksi ini dimulai di depan Tugu UKS. Mereka kemudian mengelilingi jalan protokol dan kembali ke tugu UKS. Selain membentangkan spanduk, pengunjuk rasa juga membagikan selebaran berisi seruan pilkada damai. Unjuk rasa ini berlangsung damai. Meski demikian, polisi tetap berjaga-jaga di beberapa sudut kota.

KONSER SLANK DI BOGOR RICUH


Minggu, 24 Agustus 2008 22:03 WIB
Metrotvnews.com, Bogor: Konser kelompok musik Slank di Lapangan Bondol, Kota Bogor, Jawa Barat, Ahad (24/8), diwarnai keributan antara penonton dan aparat keamanan. Sejumlah Slanker ditangkap, namun segera dibebaskan.

Konser semula berjalan tertib. Namun, tiba-tiba sejumlah penggemar Slank yang sering disebut Slanker memaksa masuk lapangan tanpa tiket. Penonton dari berbagai wilayah Jabodetabek ini mendobrak pagar seng yang mengelilingi area konser. Kericuhan di konser grup musik Slank di Bogor

Aparat keamanan yang berasal dari pasukan TNI Angkatan Udara Lapangan Udara Atang Senjaya, Bogor berupaya menghalau para Slanker. Namun, para Slanker tetap berupaya menerobos masuk ke arena konser. Padahal, panitia sudah membuka pintu masuk gratis untuk menghindari bentrokan antara penonton dan aparat keamanan.

Karena itulah sejumlah Slanker ditangkap aparat keamanan. Namun, mereka kemudian dibebaskan kembali.

Jumat, September 05, 2008

Kartu AS-SLANK


Kartu AS-SLANK
VP Marketing & CRM Telkomsel, Erik Meijer (kanan) bersalaman dengan vokalis Slank, Kaka (kedua kiri) disaksikan oleh personil lainnya, seusai peluncuran Kartu As edisi Slank di Bandung, Jawa Barat, Sabtu (25/2). Kartu tersebut menawarkan berbagai fasilitas khusus yang bersifat gratis, seperti, nonton konser Slank, nada sambung pribadi, keanggotaan SlankAs dan SMS seputar Slank.